AUTIS
A.
PENGERTIAN AUTIS
Kata autisme berasal dari bahasa Yunani yang terdiri
dari dua kata yaitu ‘aut’ yang berarti ‘diri sendiri’ dan ‘ism’ yang secara
tidak langsung menyatakan ‘orientasi atau arah atau keadaan (state). Sehingga
autism dapat didefinisikan sebagai kondisi seseorang yang luar biasa asik
dengan dirinya sendiri (Reber, 1985 dalam Trevarthen dkk, 1998). Pengertian ini
menunjuk pada bagaimana anak-anak autis gagal bertindak dengan minat pada orang
lain, tetapi kehilangan beberapa penonjolan perilaku mereka. Ini, tidak
membantu orang lain untuk memahami seperti apa dunia mereka. Autis pertama kali
diperkenalkan dalam suatu makalah pada tahun 1943 oleh seorang psikiatris
Amerika yang bernama Leo Kanner. Ia menemukan sebelas anak yang memiliki
ciri-ciri yang sama, yaitu tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan
individu lain dan sangat tak acuh terhadap lingkungan di luar dirinya, sehingga
perilakunya tampak seperti hidup dalam dunianya sendiri. Autis merupakan suatu
gangguan perkembangan yang kompleks yang berhubungan dengan komunikasi,
interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya tampak pada sebelum usia
tiga tahun. Bahkan apabila autis infantil gejalanya sudah ada sejak bayi. Autis
juga merupakan suatu konsekuensi dalam kehidupan mental dari kesulitan
perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak fungsifungsi: persepsi
(perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling). Autis
jugs dapat dinyatakan sebagai suatu kegagalan dalam penalaran sistematis
(systematic reasoning). Dalam suatu analisis ‘microsociological’ tentang logika
pemikiran mereka dan interaksi dengan yang lain (Durig, 1996; dalam Trevarthen,
1998), orang autis memiliki kekurangan pada ‘cretive induction’ atau membuat
penalaran induksi yaitu penalaran yang bergerak dari premis-premis khusus
(minor) menuju kesimpulan umum, sementara deduksi, yaitu bergerak pada
kesimpulan khusus dari premis-premis (khusus) dan abduksi yaitu peletakan
premis-premis umum pada kesimpulan khusus, kuat. (Trevarthen, 1998).
DSM IV
(Diagnpstic Statistical Manual yang dikembangkan oleh para psikiater dari
Amerika) mendefinisikan anak autis sebagai berikut: 1. Terdapat paling sedikit
enam pokok dari kelompok a, b dan c, meliputi sekurang-kurangnya: satu item
dari kelompok a, sekurang-kurangnya satu item dari kelompok b,
sekurang-kurangnya satu item dari kelompok c.
Gangguan kualitatif dalam
interaksi sosial yang ditunjukkan oleh paling sedikit dua diantara berikut: 1)
Memiliki kesulitan dalam mengunakan berbagai perilaku non verbal seperti,
kontak mata, ekspresi muka, sikap tubuh, bahasa tubuh lainnya yang mengatur
interaksi sosial.
2) Memiliki kesulitan dalam mengembangkan hubungan dengan
teman sebaya atau teman yang sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya.
3)
Ketidakmampuan untuk berbagi kesenangan, minat, atau keberhasilan secara
spontan dengan orang lain (seperti; kurang 2 tampak adanya perilaku
memperlihatkan, membawa atau menunjuk objek yang menjadi minatnya).
4)
Ketidakampuan dalam membina hubungan sosial atau emosi yang timbal balik.
b.
Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi yang ditunjukkan oleh paling sedikit
satu dari yang berikut:
1) Keterlambatan dalam perkembangan bicara atau sama
sekali tidak (bukan disertai dengan mencoba untuk mengkompensasikannya melalui
cara-cara komunikasi alternatif seperti gerakan tubuh atau lainnya).
2) Bagi
individu yang mampu berbicara, kurang mampu untuk memulai pembicaraan atau
memelihara suatu percakapan dengan yang lain. Pemakaian bahasa yang
stereotipe atau berulang-ulang atau bahasa yang aneh (idiosyncantric).
4) Cara
bermain kurang bervariatif, kurang mampu bermain pura-pura secara spontan,
kurang mampu meniru secara sosial sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya.
c.
Pola minat perilaku yang terbatas, repetitive, dan stereotype seperti yang
ditunjukkan oleh paling tidak satu dari yang berikut:
1) Keasikan dengan satu
atau lebih pola-pola minat yang terbatas dan stereotipe baik dalam intensitas
maupun dalam fokusnya.
2) Tampak tidak fleksibel atau kaku dengan rutinitas
atau ritual yang khusus, atau yang tidak memiliki manfaat.
3) perilaku motorik
yang stereotip dan berulang-ulang (seperti : memukul-mukulkan atau
menggerakgerakkan tangannya atau mengetuk-ngetukan jarinya, atau menggerakkan
seluruh tubuhnya).
4) Keasikan yang menetap dengan bagian-bagian dari benda
(object). 2. Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia tiga tahun
seperti yang ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal pada
paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut: 3. Sebaiknya tidak
dikelompokkan ke dalam Rett Disorder, Childhood Integrative Disorder, atu
Asperger Syndrom. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak autis yaitu
anak-anak yang mengalami kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang
mempengaruhi banyak fungsi-fungsi: persepsi (perceiving), intending, imajinasi
(imagining) dan perasaan (feeling) yang terjadi sebelum umur tiga tahun dengan
dicirikan oleh adanya hambatan kualitatif dalam interaksi sosial, komunikasi
dan terobsesi pada satu kegiatan atau obyek yang mana mereka memerlukan layanan
pedidikan khusus untuk mengembangkan potensinya.
B. PRILAKU ANAK AUTIS
1.
Prilaku Sosial Perilaku sosial memungkinkan seorang individu untuk berhubungan
dan berinteraksi dalam seting sosial. Tinjauan tentang kesulitan (deficits)
sosial pada anakanak autis baru-baru ini muncul (Hawlin, 1986 dalam Kathleen
Ann Quill, 1995). 3 Anak-anak autis yang nonverbal telah diketahui bahwa mereka
mengabaikan (ignore) orang lain, memperlihatkan masalah umum dalam bergaul
dengan orang lain secara sosial. Ekspresi sosial mereka terbatas pada ekspresi
emosi-emosi yang ekstrim, seperti menjerit, menangis atau tertawa yang
sedalam-dalamnya . Anak-anak autis tidak menyukai perubahan sosial atau
gangguan dalam rutinitas sehari-hari dan lebih suka apabila dunia mereka tetap
sama. Apabila terjadi perubahan mereka akan lebih mudah marah, contoh: mereka
akan marah apabila mengambil rute pulang dari sekolah yang berbeda dari yang
biasa dilewati, atau posisi furnitur di dalam kelas berubah dari semula.
Anak-anak autis sering memperlihatkan perilaku yang merangsang dirinya sendiri
(self-stimulating) seperti mengepak-ngepakkan tangan (hand flapping)
mengayun-ayun tangan ke depan dan kebelakang, membuat suara-suara yang tetap
(ngoceh), atau menyakiti diri sendiri (self-inflicting injuries) seperti
menggaruk-garuk, kadang sampai terluka, menusuk-nusuk. Perilaku merangsang diri
sendiri (self-stimulating) lebih sering terjadi pada waktu yang berbeda dari
kehidupan anak atau selama situasi sosial berbeda (Iwata et all, 1982 dalam
Kathleen Ann Quill, 1995). Perilaku ini lebih sering lagi terjadi pada saat
anak autis ditinggal sendiri atau sedang sendirian daripada waktu dia sibuk
dengan tugas-tugas yang harus dikerjakannya, dan berkurang setelah anak belajar
untuk berkomunikasi. (Carr & Durrand, 1985; dalam Kathleen Ann Quill,
1995).
2. Prilaku Komunikasi Bahasa termasuk pembentukan kata-kata, belajar
aturan-aturan untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat dan mengetahui maksud
atau suatu alasan menggunakan bahasa. Bahasa merupakan sesuatu yang abtrak.
Pemahaman bahasa memerlukan fungsi pendengaran yang baik dan persepsi
pendengaran yang baik pula. Bahasa pragmatis yang merupakan penerjemahan
(interpreting) dan penggunaan bahasa dalam konteks sosial, secara pisik
(physical) dan konteks linguistik. Pragmatis dan komunikasi berhubungan erat,
untuk menjadi seorang komunikator yang berhasil seorang anak harus memiliki
pengetahuan tentang bahasa yang dipergunakannya sama baiknya dengan pemahaman
tentang manusia dan dimensi dunia yang bukan manusia. Komunikasi lebih daripada
kemampuan untuk bicara atau kemampuan untuk merangkai kata-kata dalam urutan
yang tepat (Wilson, 1987 Kathleen Ann Quill, 1995). Komunikasi adalah kemampuan
untuk membiarkan orang lain mengetahui apa yang diinginkan oleh individu,
menjelaskan tentang suatu kejadian kepada orang lain, untuk menggambarkan
tindakan dan untuk mengakui keberadaan atau kehadiran orang lain. Komunikasi
dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal. Komunikasi dapat dijalin melalui
gerakan tubuh, melalui tanda isarat atau dengan menunjukkan gambar atau
kata-kata. Secara tidak langsung komunikasi menyatakan suatu situasi sosial
antara dua individu atau lebih. Dalam komunikasi orang yang membawa pesan
disebut pemrakarsa (initiator) sedangkan orang yang mendengarkan pesan disebut
penerima pesan. Pesan bergantian antara pemrakarsa dan penerima pesan. Untuk
memenuhi kemampuan (competent) dalam keterampilan pragmatis anak harus
mengetahui dan memahami kedua peran tersebut, sebagai premrakarsa dan sebagai
penerima pesan. (Watson, 1987, dalam Kathleen Ann Quill, 1995). Banyak anak
autis yang memiliki kesulitan dalam pragmatis (Baron, Cohen, 1988 dalam
Kathleen, 1995). Untuk peran pemrakarsa dalam 4 berkomunikasi, anak autistik
memiliki kesulitan dalam memulai percakapan atau pembicaraan (Feidstein,
Konstantereas, Oxman, & Webster, 1982 dalam Kathleen Ann Quill, 1995).
Ketika berbicara, mereka cenderung meminta orang dewasa untuk mengambilkan
mainan, makanan atau minuman, mereka jarang menyampaikan tindakan yang
komunikatif seperti menjawab orang lain, mengomentari sesuatu, mengungkapan
perasaan atau menggunakan etika sosial seperti pengucapan terimakasih, atau
meminta maaf. Anak-anak autis yang non verbal sering menjadi penerima informasi
dan merespon pada orang tua dan guru mereka meminta dengan perlakuan (deal)
yang konsisten. Contoh orang dewasa bertanya:”Kamu mau makan apa?”. Dan anak
mungkin menjawab dengan memperlihatkan gambar kue atau dengan menggambar kue
atau bahkan mungkin dengan kata-kata. Ini sutu peningkatan komunikasi karena
anak mengakui orang dewasa sebagai teman dalam meningkatkan komunikasi dan
memahami permintaan guru yang ditujukan padanya. Dalam permintaan ini anak
sebagai penerima dan penjawab permintaan itu. (Kathleen Ann Quill, 1995). Ada
beberapa perilaku yang diperlukan dan harus dimiliki oleh seorang anak autis
yang nonverbal agar menjadi seorang komunikator yang berhasil yaitu pemahaman
sebab akibat, keinginan berkomunikasi, dengan siapa dia berkomunikasi, ada sesuatu
untuk dikomunikasikan dan makna dari komunikasi. Di dalam komunikasi apabila
seorang anak tidak memahami sebab, dia akan mengalami kesulitan dalam meminta
seseorang untuk melakukan sesuatu atau membantunya untuk mengambil benda di
tempat penyimpanan (rak) yang paling tinggi. Tanpa penalaran sebab akibat anak
tidak dapat meminta suatu tindakan atau benda dari orang lain. Memiliki
keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain merupakan tugas yang sulit
untuk anak-anak yang nonverbal, selama satu dari tantangan utama mereka adalah
ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain dalam cara yang diharapkan.
Mereka tidak mengakui atau memperlihatkan ketertarikan pada orang lain. Alasan
utama dari pernyataan ini karena miskinnya hubungan sebab akibat yang telah
dibicarakan di atas. Jika seorang anak tidak memahami bahwa seseorang dapat
membantunya atau anak tidak memahami bahwa tindakan akan mengakibatkannya
mendapatkan sesuatu. Sering kali guru berperan sebagai pemrakarsa dalam
meningkatkan komunikasi dengan anak autis dan anak biasanya jadi responder.
Anak harus belajar menunggu dengan sabar supaya guru menunjukkannya dan dia
akan menerima yang dinginkannya. Anak perlu kesempatan untuk meminta benda
dengan bebas atau mengawali percakapan. Jika anak autis tidak memiliki sesuatu
untuk dibicarakan dia akan tetap tidak berkomunikasi (noncomunicatif). Dari
uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prilaku komunikasi anak autistik
yang menghambat interaksinya dengan orang lain, dapat ditunjukkan dengan perilaku
yang nampak seperti: mengabaikan orang lain (tidak merespon apabila diajak
berbicara), tidak dapat mengekspresikan emosi secara tepat (tidak tertawa
melihat yang lucu, tidak memperlihatkan perasaan senang, takut, atau sakit,
dalam mimik mukanya), terobsesi dengan kesamaan (kaku), tidak mampu
mengungkapkan keinginannya secara verbal atau mengkompensasikannya dalam
gerakan, sulit untuk memulai percakapan atau pembicaraan, jarang melakukan
tindakan yang komunikatif, jarang menggunakan kata-kata yang menunjukkan etika
sosial, atau 5 mengungkapkan perasaan atau mengomentari sesuatu, echolalia
(membeo), nada bicara monoton, salah menggunakan kata ganti orang.
C. FAKTOR
PENYEBAB
1. Faktor Genetik Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan
oleh faktor genetik. Penyakit genetik yang sering dihubungkan dengan autisme
adalah tuberous sclerosis (17-58%) dan sindrom fragile X (20-30%). Disebut
fragile-X karena secara sitogenetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan
(fragile) yang tampak seperti patahan diujung akhir lengan panjang kromosom X Sindrome fragile X merupakan penyakit yang diwariskan secara X-linked (X
terangkai) yaitu melalui kromosome X. Pola penurunannya tidak umum, yaitu tidak
seperti penyakit dengan pewarisan X-linked lainnya, karena tidak bisa
digolingkan sebagai dominan atau resesi, laki-laki dan perempuan dapat menjadi
penderita maupun pembawa sifat (carrier). (Dr. Sultana MH Faradz, Ph.D, 2003)
2. Ganguan pada Sistem Syaraf Banyak penelitian yang melaporkan bahwa anak
autis memiliki kelainan pada hampir semua struktur otak. Tetapi kelainan yang
paling konsisten adalah pada otak kecil. Hampir semua peneliti melaporkan
berkurangnya sel purkinye di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel purkinye
diduga dapat merangsang pertumbuhan akson, glia dan myelin sehingga terjadi
pertumbuhan otak yang abnormal, atau sebaliknya pertumbuhan akson yang abnormal
dapat menimbulkan sel purkinye mati. (Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K),
2003). Otak kecil berfungsi mengontrol fungsi luhur dan kegiatan motorik, juga
sebagai sirkuit yang mengatur perhatian dan pengindraan. Jika sirkuit ini rusak
atau terganggu maka akan mengganggu fungsi bagian lain dari sistem saraf pusat,
seperti misalnya sistem limbik yang mengatur emosi dan perilaku.
3. Ketidakseimbangan
Kimiawi Beberapa peneliti menemukan sejumlah kecil dari gejala autistik
berhubungan dengan makanan atau kekurangan kimiawi di badan. Alergi terhadap
makanan tertentu, seperti bahan-bahan yang mengandung susu, tepung gandum,
daging, gula, bahan pengawet, penyedap rasa, bahan pewarna, dan ragi. Untuk
memastikan pernyataan tersebut, dalam tahun 2000 sampai 2001 telah dilakukan
pemeriksaan terhadap 120 orang anak yang memenuhi kriteria gangguan autisme
menurut DSM IV. Rentang umur antara 1 – 10 tahun, dari 120 orang itu 97 adalah
anak laki-laki dan 23 orang adalah anak perempuan. Dari hasil pemeriksaan
diperoleh bahwa anak anak ini mengalami gangguan metabolisme yang kompleks, dan
setelah dilakukan pemeriksaan untuk alergi, ternyata dari 120 orang anak yang
diperiksa: 100 anak (83,33%) menderita alergi susu sapi, gluten dan makanan
lain, 18 anak (15%) alergi terhadap susu dan makanan lain, 2 orang anak (1,66
%) alergi terhadap gluten dan makanan lain. (Dr. Melly Budiman, SpKJ, 2003).
Penelitian lain menghubungkan autism dengan ketidakseimbangan hormonal,
peningkatan kadar dari bahan kimiawi tertentu di otak, seperti opioid, yang
menurunkan persepsi nyeri dan motivasi.
4. Kemungkinan Lain Infeksi yang
terjadi sebelum dan setelah kelahiran dapat merusak otak seperti virus rubella
yang terjadi selama kehamilan dapat menyebabkan kerusakan otak. Kemungkinan
yang lain adalah faktor psikologis, karena kesibukan orang tuanya sehingga
tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak, atau anak tidak pernah diajak
berbicara sejak kecil, itu juga dapat menyebabkan anak menderita autisme.
D.
HAMBATAN-HAMBATAN ANAK AUTIS
Ada beberapa permasalahan yang dialami oleh anak
autis yaitu: Anak autis memiliki hambatan kualitatif dalam interaksi sosial
artinya bahwa anak autistik memiliki hambatan dalam kualitas berinteraksi
dengan individu di sekitar lingkungannya, seperti anak-anak autis sering
terlihat menarik diri, acuh tak acuh, lebih senang bermain sendiri, menunjukkan
perilaku yang tidak hangat, tidak ada kontak mata dengan orang lain dan bagi
mereka yang keterlekatannya terhadap orang tua tinggi, anak akan merasa cemas
apabila ditinggalkan oleh orang tuanya. Sekitar 50 persen anak autis yang
mengalami keterlambatan dalam berbicara dan berbahasa. Mereka mengalami kesulitan
dalam memahami pembicaran orang lain yang ditujukan pada mereka, kesulitan
dalam memahami arti kata-kata dan apabila berbicara tidak pada konteks yang
tepat. Sering mengulang kata-kata tanpa bermaksud untuk berkomunikasi, dan
sering salah dalam menggunakan kata ganti orang, contohnya menggunakan kata
saya untuk orang lain dan menggunakan kata kamu untuk diri sendiri. Mereka
tidak mengkompensasikan ketidakmampuannya dalam berbicara dengan bahasa yang
lain, sehingga apabila mereka menginginkan sesuatu tidak meminta dengan bahasa
lisan atau menunjuk dengan gerakan tubuh, tetapi mereka menarik tangan orang
tuanya untuk mengambil obyek yang diinginkannya. Mereka juga sukar mengatur
volume suaranya, kurang dapat menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi, seperti:
menggeleng, mengangguk, melambaikan tangan dan lain sebagainya. Anak autis
memiliki minat yang terbatas, mereka cenderung untuk menyenangi lingkungan yang
rutin dan menolak perubahan lingkungan, minat mereka terbatas artinya mereka
apabila menyukai suatu perbuatan maka akan terus menerus mengulang perbuatan
itu. anak autistik juga menyenangi keteraturan yang berlebihan.
Lorna Wing
(1974) menuliskan dua kelompok besar yang menjadi masalah pada anak autis
yaitu: a. Masalah dalam memahami lingkungan (Problem in understanding the
world)
1). Respon terhadap suara yang tidak biasa (unusually responses to
sounds). Anak autis seperti orang tuli karena mereka cenderung mengabaikan
suara yang sangat keras dan tidak tergerak sekalipun ada yang menjatuhkan benda
di sampingnya. Anak autis dapat juga sangat tertarik pada beberapa suara benda
seperti suara bel, tetapi ada anak autis yang sangat tergangu oleh suara-suara
tertentu, sehingga ia akan menutup telinganya.
2). Sulit dalam memahami
pembicaraan (Dificulties in understanding speech). Anak autis tampak tidak
menyadari bahwa pembicaraan memiliki makna, tidak dapat mengikuti instruksi
verbal, mendengar peringatan atau paham apabila dirinya dimarahi (scolded).
Menjelang usia lima tahun banyak autis yang mengalami keterbatasan dalam
memahami pembicaraan.
3). Kesulitan ketika bercakap-cakap (Difiltuties when
talking). Beberpa anak autis tidak pernah berbicara, beberapa anak autis
belajar untuk mengatakan sedikit kata-kata, biasanya mereka mengulang kata-kata
yang diucapkan orang lain, mereka memiliki kesulitan dalam mempergunakan kata
sambung, tidak dapat menggunakan kata-kata secara fleksibel atau mengungkapkan
ide.
4). Lemah dalam pengucapan dan kontrol suara (Poor pronunciation and voice
control). Beberapa anak autis memiliki kesulitan dalam membedakan suara
tertentu yang mereka dengar. Mereka kebingungan dengan kata-kata yang hampir
sama, memiliki kesulitan untuk mengucapkan kata-kata yang sulit. Mereka
biasanya memiliki kesulitan dalam mengontrol kekerasan (loudness) suara.
5).
Masalah dalam memahami benda yang dilihat (Problems in understanding things
that are seen). Beberapa anak autis sangat sensitif terhadap cahaya yang sangat
terang, seperti cahaya lampu kamera (blitz), anak autis mengenali orang atau
benda dengan gambaran mereka yang umum tanpa melihat detil yang tampak.
6).
Masalah dalam pemahaman gerak isarat (problem in understanding gesturs). Anak
autis memiliki masalah dalam menggunakan bahasa komunikasi; seperti gerakan
isarat, gerakan tubuh, ekspresi wajah.
7). Indra peraba, perasa dan pembau (The
senses of touch, taste and smell). Anak-anak autis menjelajahi lingkungannya
melalui indera peraba, perasa dan pembau mereka. Beberapa anak autis tidak
sensitif terhadap dingin dan sakit.
8). Gerakan tubuh yang tidak biasa
(Unusually bodily movement). Ada gerakangerakan yang dilakukan anak autis yang
tidak biasa dilakukan oleh anakanak yang normal seperti mengepak-ngepakan
tangannya, meloncat-loncat, dan menyeringai.
9). Kekakuan dalam gerakan-gerakan
terlatih (clumsiness in skilled movements). Beberapa anak autis, ketika
berjalan nampak anggun, mampu memanjat dan seimbang seperti kucing, namun yang
lainnya lebih kaku dan berjalan seperti memiliki bebrapa kesulitan dalam
keseimbangan dan biasanya mereka tidak menikmati memanjat. Mereka sangat kurang
dalam koordinasi dalam berjalan dan berlari atau sebaliknya.
Masalah
gangguan perilaku dan emosi (Dificult behaviour and emotional problems)
1.
Sikap menyendiri dan menarik diri (Aloofness and withdrawal). Banyak anak autis
yang berprilaku seolah-olah orang lain tidak ada. Anak autis tidak merespon
ketika dipanggil atau seperti tidak mendengar ketika ada orang yang berbicara
padanya, ekspresi mukanya kosong.
2. Menentang perubahan (Resistance to
change). Banyak anak autis yang menuntut pengulangan rutinitas yang sama.
Beberapa anak autis memiliki 8 rutinitas mereka sendiri, seperti
mengetuk-ngetuk kursi sebelum duduk, atau menempatkan objek dalam garis yang
panjang.
3. Ketakutan khusus (Special fears). Anak-anak autis tidak menyadari
bahaya yang sebenarnya, mungkin karena mereka tidak memahami kemungkinan
konsekuensinya.
4. Prilaku yang memalukan secara sosial (Socially embarrassing
behaviour). Pemahaman anak autis terhadap kata-kata terbatas dan secara umum
tidak matang, mereka sering berperilaku dalam cara yang kurang dapat diterima
secara sosial. anak-anak autis tidak malu untuk berteriak di tempat umum atau
berteriak dengan keras di senjang jalan.
5. Ketidakmampuan untuk bermain
(Inability to play). Banyak anak autis bermain dengan air, pasir atau lumpur
selam berjam-jam. Mereka tidak dapat bermain pura-pura. Anak-anak autis kurang
dalam bahasa dan imajinasi, mereka tidak dapat bersama-sama dalam permainan
dengan anak-anak yang lain. E. IMPLEMENTASI METODE TEACCH UNTUK MENINGKATKAN
KEMAMPUAN KOGNITIF DAN PRILAKU ADAPTIF ANAK AUTIS Salah satu metode yang dapat
digunakan untuk meingkatkan kemampuan kognitif dan prilaku adaptif anak
autis.adalah metode TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related
Communication Handicapped Children and Adults), yang dilaksanakan di Universtas
North Carolina, metode ini memberi banyak pemahaman dan pelatihan bagi guru
untuk bekerja dengan anak-anak autis. Metode ini juga mempunyai kumpulan
asesmen pendidikan dan materi kurikulum yang dipadukan dengan seluruh program
dan pendekatan pendidikan mereka. Salah satu program aplikasi metode TEACCH
adalah dengan menggunakan system komunikasi visual, yang mana anak
berkomunikasi dengan setiap orang melalui gambar dan foto. Hal ini karena
ketertarikan anak autis terhadap obyek (gambar) lebih tinggi daripada terhadap
manusia. Proses timbal balik dalam suatu system komunikasi dengan gambarpun
dibuat lebih mudah sehingga lebih mudah divisualisasi. seorang anak autis
membawa gambar untuk meminta pertolongan, kemudian guru menghampiri, anak
menunjuukkan gambar minta dan kue, kemudian gurunya memberikan kue. Dalam
aplikasi metode TEACCH, kurikulum berikut karakteristik sosial telah
diobservasi selama observasi yang meliputi: proximity, (kedekatan), objects and
body use (penggunaan benda dan tubuh), social response (respon sosial), social
initiation (permulaan sosial), interfering (behavior), menyentuh prilaku dan
adaptation to change (menyesuaikan terhadap perubahan).
1. Proximity.
Pada proximity, observasi dilakukan tentang toleransi bagian tubuh, “arah”
adalah aspek lain dari: apakah kita menatap dengan benar ketika sedang
berbicara dengan anak autis? Apakah dia (anak autis) melihat kita ketika kita
bicara kepadanya? Apakah dia memahami aktivitas? (missal: area rekreasi untuk
bermain, atau sudut ruangan untuk bekerja). 9
2. Objects and body use. Apakah anak autis
memiliki anyak gerakan yang aneh? (missal: jalan berjinjit)? Apakah dia
memahami bahwa sendok adalah alat yang digunakan untuk makan dengan atau tanpa
bunyi ketika menggunakannya?
3. Response
social. Bagaimana reaksi anak autis ketika orang lain tersenyum atau
mengucapkan salam? Atau ketika teman atau saudaranya mengajak bermain? Apakah
anak autis dapat berjabatan tangan?
4. Social initiation. Apakah anak autis dapat
mengucapkan selamat pagi pada dirinya sendiri di pagi hari? Itu dapat menjadi
suatu keterampilan hubungan masyarakat yang sangat penting di kemudian hari
ketika dia sudah bekerja. Kemampuan prilaku adaptif ini dapat menentukan sikap
karyawan lain untuk menghargai dan menerima orang autis. Apakah orang autis
dapat menjelaskan bahwa dia kebingungan, belum mengerti sesuatu atau bahwa dia
tidak mempunyai garpu dan sendok?
5. interfering
behavior. Apakah anak autis menunjukkan agresi terhadap dirinya sendiri atau
orang lain?
6. Adaptation to change. Apakah anak autis
merasa terganggu ketika program atau posisi benda yang ada di lingkungannya
berubah? Apakah dia mampu menggeneralisir keterampilan dan prilaku yang adaptif
pada aktivitas situasi lain?. Karakteristik itu semua diamatai dalam berbagai
situasi yang relevan dengan kehidupan anak autis, waktunya tersetruktur, ketika
sedang bermain, waktu makan, selama perjalanan, ketika bertemu dengan orang
lain.
Structuer Time Cuntext proximity
Object/ body use Social initiation Social respon Interfering behavior
Adaptation to change Play/leisure Travel Mealtime Meeting othets Contoh
aplikasi metode TEACCH :
1. Seorang anak autis masuk ke dalam kelas untuk
pertama kali. Dia belum terbiasa untuk belajar, dan sulit untuk duduk. Guru
menyuruh dia untuk mengambil kartu dan memasukkan ke dalam kotak yang sesuai
dengan warna kartu, tapi dia tidak mengerti. Dia menangis dan teriak. Dia
menunjukkan ‘penolakan’ dengan tidak mengijinkan siapapun untuk mendekat.
2.
Tiga minggu kemudian. Guru memberikan kartu ketika anak autis masuk ke dalam
kelas, dia masih belum mengerti dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Kemudian guru menuntun dia secara fisik, memberikan dorongan pada arah yang
benar, dia merespon. Dia menunjukkan penolakan tetapi tidak lama dan dia
membutuhkan dorongan fisik.
3. Tiga bulan kemudian. Anak mulai memahami
rutinitas kelas. Dia datang kemudian mengambil kartu dari guru dan
memasukkannya pada kotak yang warnanya sama, guru berkata yang harus dilakukan
oleh anak (jadwal pada hari itu), atau menunjukkan gambar yang menandakan
kegiatan yang harus dilakukan oleh anak. Dia melakukan aktivitas sesuai dengan
gambar yang ditunjukkan oleh guru. Pada tahap ini anak tidak memerlukan prompt
fisik, tetapi memerlukan prompt khusus.
4. Beberapa bulan kemudian anak dapat
melakkan aktivitasnya sendiri tanpa bimbingan dari guru atau orang lain.
Kemandirian inilah yang diharapkan oleh guru dan orang tua, kemandirian yang
tidak mengkat keterlibatan guru mendampingi anak autis lebih lama. Dia mampu
menggeneralisasi prilaku adaptifnya dalam segala situasi.
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association, Diagnostik and Statistical Manual of Mental
Disorders, Washington DC.: American Psychiatric Association Publisher. Budiman,
Melly, (2003).
Gangguan Metabolisme pada Anak Autistik di Indonesia, (makalah),
Jakarta: Konferensi Nasional Autisme-I. Hidayat. (2004).
Aplikasi Metode TEACCH
dan Multisensori-Fernald dalam Optimasi Kemampuan Kognitif dan Prilaku Adaptif
Anak Autis, (makalah). Peeters, Theo, (1998).
Autism From Theoritical
Understanding to Educational Intervention, London: Whurr Publisher Ltd.
Pusponegoro, Hartono D, (2003).
Pandangan Umum mengenai Klasifikasi Spektrum
Gangguan Autistik dan Kelainan Susunn saraf Pusat (makalah), Jakarta:
Konferensi Nasional Autisme-I Sasanti, Yuniar, (2003).
Masalah Perilaku pada
Gangguan Spektrum Autism (GSA) (makalah), Jakarta: Konferensi Nasional
Autisme-I Threvarthen, Colwyn, (1999).
Children With Autism, Second Edition,
Philadelphia: Jessica Kingsley Publisher. Wing, Lorna, (1974).
Autistik
Children A Guide for Parents and Professionals, New Jersey: The Chitadel Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar